albumbaru.com — Spotify Wrapped menarik karena formatnya terasa seperti laporan pribadi, tetapi dikemas seperti konten yang ingin dibagikan. Daftar artist, lagu, genre, dan kebiasaan mendengarkan tiba-tiba berubah menjadi bagian dari identitas digital.
Kita tidak hanya melihat apa yang kita dengarkan. Kita juga mulai bertanya, “Oh, ternyata gue seperti ini.”
Musik Menjadi Identitas Digital
Selera musik sudah lama menjadi bagian dari identitas sosial. Orang bisa mengenali seseorang dari artist favorit, genre yang disukai, atau konser yang pernah didatangi.
Yang berubah adalah cara identitas tersebut ditampilkan. Platform streaming memiliki data tentang kebiasaan mendengarkan, lalu mengemasnya menjadi cerita yang mudah dibagikan.
Spotify Wrapped membuat data personal terasa seperti percakapan sosial. Orang membandingkan hasilnya dengan teman, membagikan kartu favorit, atau menemukan kesamaan dengan orang lain.
Musik akhirnya menjadi semacam bahasa sosial. Kita menggunakan apa yang kita dengarkan untuk menunjukkan siapa diri kita, atau setidaknya bagaimana kita ingin dilihat.
Ketika Data Terasa Personal
Ada hal menarik dari fenomena ini. Data sebenarnya bersifat sangat teknis, tetapi cara penyajiannya membuat kita merasa sedang membaca cerita tentang diri sendiri.
Itulah kekuatan Spotify Wrapped. Informasi yang sebelumnya tersembunyi di balik sistem rekomendasi tiba-tiba menjadi sesuatu yang bisa kita lihat dan komentari.
Namun hasil tersebut tetap hanya menggambarkan kebiasaan mendengarkan dalam konteks tertentu. Seseorang yang banyak mendengarkan jazz dalam satu tahun belum tentu hanya menyukai jazz.
Karena itu, Wrapped lebih menarik jika dilihat sebagai potret sementara, bukan definisi lengkap tentang selera musik kita.
Lagipula, selera musik selalu berubah. Dan mungkin justru itu bagian paling menarik dari mendengarkan musik. (ymn/ab)
