albumbaru.com — Ada band yang bertahan karena nostalgia. MALIQ & D’Essentials bertahan karena musiknya masih terasa hidup. Dua dekade lebih setelah terbentuk, mereka tetap terdengar seperti band yang sedang menikmati proses menemukan groove berikutnya.
Dari Jazz-Funk ke Pop yang Lebih Luas
Sejak 1st (2005), MALIQ & D’Essentials sudah memiliki bahasa musikal yang cukup jelas: R&B, funk, jazz fusion, dan neo-soul bertemu dalam produksi yang penuh energi.
View this post on Instagram
Namun menariknya, mereka tidak pernah benar-benar terjebak di sana.
Free Your Mind (2007) memperluas palet mereka, sementara Sriwedari (2013) membawa unsur dangdut dan pop retro ke dalam identitas grup. Evolusi tersebut penting karena menunjukkan bahwa musikalitas MALIQ tidak bergantung pada satu genre.
Mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan band lain: groove bukan genre. Groove adalah cara sebuah lagu bergerak.
Kenapa Musik MALIQ Tetap Relevan?
Dengarkan “Untitled”, “Dia”, “Menari”, lalu bandingkan dengan “Begini Begitu” dari CAN MACHINES FALL IN LOVE? (2024). Ada perubahan produksi dan konteks, tetapi DNA-nya masih mudah dikenali. Album tersebut bergerak ke wilayah R&B/Soul dan membawa tema romantis yang lebih kontemporer.
Kekuatan MALIQ juga terletak pada kemampuan mereka membuat musik yang musikal tanpa terdengar seperti demonstrasi teknik.
Bass, drum, keyboard, gitar, vokal, dan horn section tidak berebut perhatian. Semuanya bekerja untuk menciptakan momentum. Pendengar yang tidak terlalu paham teori musik pun bisa merasakan ketika sebuah lagu MALIQ “jalan”.
Itulah alasan mereka punya koneksi lintas generasi.
Pendengar lama mungkin datang karena jazz-soul yang menjadi fondasi. Pendengar yang lebih muda bisa menemukan mereka melalui lagu-lagu baru, playlist, atau pertunjukan langsung. Bahkan setelah lebih dari dua dekade, Apple Music masih menempatkan mereka sebagai salah satu kelompok penting dalam lanskap musik Indonesia.
MALIQ & D’Essentials pada akhirnya bukan sekadar band yang berhasil bertahan lama. Mereka adalah contoh bahwa musikalitas bisa menjadi bentuk longevity.
Selama masih ada lagu yang membuat orang ingin bergerak, bernyanyi, atau sekadar menganggukkan kepala mengikuti ketukan, groove MALIQ masih punya alasan untuk terus hidup.
Nah, apa tanggapan kamu tentang musik MALIQ & D’Essentials? (ymn/albumbaru.com)
