Beli CD Dapet Mangkok

Gue nemuin ini sudah dari bulan lalu, jauh sebelum gue nemuin beli CD dapet rokok. Album CD Mega Hits yang berisikan lagu-lagu karya Bebi Romeo yang ditarik suarakan oleh penyanyi-penyanyi ternama ini dijual dengan bandrol Rp. 25.000,-. Pembeli album ini mendapatkan bonus yaitu selusin mangkok tiap pembeliannya. Di minggu sebelumnya, pembelian CD ini sempat gue temukan berbonus satu kilogram telor ayam negeri. Karena harga telor mungkin terlalu fluktuatif ketimbang harga mangkok, makanya kemudian mangkok lah yang dipilih menjadi bonus hingga kini.

Sempat beberapa waktu lalu juga dapet link dari twitter mbak Hera yang isinya album CD Setia yang baru saja rilis, dibundling dengan rokok, namun packagingnya gak seciamik CD Jamrud. Mungkin si artis atau labelnya pun tidak menyadari kalau produknya di perlakukan seperti ini. Ah tak apalah, kan sudah dibayar di muka, eh.

Biasanya ini dilakukan untuk menaikkan value produk lainnya yang dirasa kurang laku dengan menggunakan musik sebagai pendongkrak. Maklum saja, semua orang suka dengan musik dan musik bisa menyentuh kalangan apa saja.

Praktek bundling ini memang lazim dilakukan dan sudah ada sejak lama. Bukan hanya dengan produk makanan atau kebutuhan sehari-hari, CD juga bisa dibundling dengan produk apa saja, contohnya produk tabungan.

Awal bulan Mei lalu contohnya, untuk meningkatkan loyalitas nasabah Bank BNI dan juga menggaet nasabah-nasabah junior, Bank BNI bekerjasama dengan Sony Music Indonesia menghadirkan sebuah album CD bertajuk Ambilkan Bulan. Jika ingin memiliki album ini sebelum bulan Juli, kamu harus membuka tabungan BNI Taplus Anak di kantor cabang Bank BNI di seluruh Indonesia.

Musik dalam kemasan CD makin terasa bentuknya sebagai memorabilia. Suatu yang tangible dan untuk dibagikan. Sewaktu berkunjung ke Tokyo tiga tahun lalu, gue malah menemukan rilisan CD yang sudah dikemas sebagai hadiah ulang tahun atau peringatan sesuatu.

Distribusi CD pun tak lagi melewati toko-toko CD pada umumnya, selain sudah banyak yang pada gulung tikar. Warung-warung, toko kelontong, restoran cepat saji, pom bensin hingga Bank telah menjelma menjadi distributor musik dalam kemasan CD. Sayangnya, penggemar musik tak lagi mendapatkan hak nya untuk mencoba CD tersebut, apakah layak putar? apakah enak didengar? dan pasrah saja dengan wanti-wanti si pembeli, “Masak mau komplen Pak? Kan sudah dapet bonus mangkok nya!”

penulis adalah seorang music enthusiast, pernah bekerja di perusahaan rekaman selama 7 tahun, berpengalaman di industri media dan bisnis musik digital, personil cadangan dan juga manager band galau ibu kota.