albumbaru.com — Fear of Missing Out atau FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas karena takut tertinggal sesuatu. Di media sosial, perasaan ini muncul hampir setiap hari: melihat teman liburan, orang lain terlihat sukses, atau tren yang terus berubah.
Membandingkan dengan Hidup Orang Lain
Tanpa disadari, algoritma media sosial memperkuat perasaan tersebut. Kita terus melihat potongan hidup terbaik orang lain, lalu membandingkannya dengan kehidupan pribadi yang jauh lebih kompleks.
Secara psikologis, FOMO berkaitan dengan comparison bias, yaitu kecenderungan otak untuk terus membandingkan diri dengan lingkungan sekitar. Semakin sering seseorang terpapar kehidupan orang lain, semakin besar rasa tidak puas yang bisa muncul.
Sebagai respons terhadap kondisi itu, muncul konsep JOMO atau Joy of Missing Out. Berbeda dengan FOMO, JOMO justru mengajarkan bahwa tidak mengikuti semua hal bukanlah masalah.
Menikmati Momen
JOMO membantu seseorang kembali fokus pada apa yang benar-benar penting untuk dirinya sendiri. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua undangan harus diterima. Dan tidak semua pengalaman harus diposting.
Menariknya, banyak orang justru menemukan ketenangan ketika berhenti mencoba mengejar semua hal sekaligus. Mereka mulai menikmati momen kecil tanpa tekanan untuk terlihat menarik di mata orang lain.
Dalam konteks psikologi modern, JOMO juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran diri (self awareness). Seseorang mulai memahami bahwa validasi eksternal tidak selalu sama dengan kebahagiaan internal.
Pada akhirnya, JOMO bukan tentang menarik diri dari dunia sosial, tetapi tentang memiliki kebebasan untuk memilih ritme hidup sendiri tanpa terus-menerus merasa tertinggal. Itulah seni menikmati hidup. Iya, nggak? (apn/Berbagai Sumber)
